FORUM MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN IPA-FISIKA SMP KAB.MADIUN

Kalau sudah tertantang, rasanya panas di dada. Harus bisa! Harus berhasil! Harus dapat skor tertinggi! Harus menang! Harus menguasi keterampilan itu! Harus…….! Timbul semangat baru untuk berupaya belajar lebih keras. Pernahkah guru Anda waktu di sekolah dulu membuat Anda merasa tertantang?
Begitulah, akan bergejolak rasa di dada setiap siswa yang merasa tertantang oleh pembelajaran seorang guru yang pandai melibatkan emosi siswa. Guru harus cerdas membuat seluruh siswanya merasa tertantang. Guru harus pandai memunculkan “rasa gatal”, “rasa tergelitik”, “rasa penasaran”, dan memicu siswa untuk berusaha berpikir kembali, mengutak-atik materi ajar dan tugas belajar dengan cara baru.
Berbagai langkah dapat dilakukan guru untuk membuat mereka merasa tertantang untuk bisa, tertantang untuk berhasil, tertantang untuk mendapat skor tertinggi, tertantang untuk menguasai suatu keterampilan, tertantang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru. Misalnya, guru dapat menyodorkan isu-isu yang bersifat kontroversi. Bisa juga dilakukan dengan membuat argumen-argumen yang berlawanan dengan teori yang diakui, tetapi argumen-argumen yang dibuat oleh guru tersebut harus tampak logis di mata siswa. Sebaga bumbu, guru juga memberikan pertanyaan-pertanyaan pertanyaan-pertanyaan pengarah, dan atau pertanyaan-pertanyaan penguji. Dengan cara ini, secara serta merta siswa biasanya akan tertantang untuk menyanggah argumen guru, dan atau mempertahankan teori yang menurut mereka benar.
Cara ini bisa saja membuat siswa menjadi ragu sesaat, dan akhirnya mereka akan mencoba mengkaji ulang. Proses kaji ulang ini sangat baik dan penting dalam pembelajaran yang konstruktif bagi proses berpikir siswa. Sebuah konsep, prinsip, teori, atau hukum akhirnya akan dielaborasi secara mendalam oleh siswa. Akan ada tahap ketidakseimbangan (disekuilibrum) menuju tahap keseimbangan (ekuilibrum), sesuai dengan prinsip konstruktivisme sebuah pembelajaran. Umpan berupa isu yang bersifat kontroversi, argumen-argumen yang sekilas tampak logis tapi bertentangan dengan teori akan melatih keterampilan dan kemampuan berpikir kritis siswa. Terpenting, berlangsung secara alamiah tanpa paksaan karena siswa merasa tertantang dan muncul dari dalam diri mereka sendiri.
Cara lain yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memberikan tugas dengan sedikit divariasi dari versi sebelumnya yang telah siswa kuasai. Tugas atau keterampilan diberikan pada level sedikit lebih tinggi tingkat kesulitan atau kerumitannya. Tugas dan keterampilan di sini dapat berupa aktivitas fisik maupun aktivitas mental, ataupun variasi keduanya. Bisa juga dengan mengaitkan tugas tersebut dengan tugas atau keterampilan lama (dari materi ajar sebelumnya: bulan lalu, semester lalu, tahun lalu) yang telah mereka kuasai. Kemudian beri kesempatan kepada siswa untuk “mempertontonkan” hasil upaya belajarnya dalam bentuk “cara mudah”, atau “hasil pemikiran kreatif” mereka kepada seluruh kelas.

Pemberian kata-kata penyemangat, dan atau pemberian nilai tambahan pada siswa yang berhasil menyelesaikan suatu tugas atau soal latihan tertentu dengan cepat dan tepat juga dapat memicu munculnya rasa tertantang dalam diri siswa. Walaupun demikian, cara-cara seperti yang disebutkan terakhir ini sebaiknya tidak terlalu sering dilakukan. Cara yang terakhir ini hanya sebagai variasi lain dalam pembelajaran untuk membuat siswa membuat merasa tertantang terhadap pembelajaran yang dilangsungkan oleh guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: