FORUM MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN IPA-FISIKA SMP KAB.MADIUN

Sebagaimana diketahui bersama bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran masih sering terjadi kesenjangan antara tujuan yang dirumuskan dengan hasil proses pembelajaran. Pembelajaran bertujuan mengembangkan aktivitas siswa yang ditunjukkan dalam rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam rencana program pengajaran yang diimplementasikan dalam indikator pencapaian hasil belajar siswa. Hasil proses pembelajaran ditunjukkan oleh tingkat penguasaan dan daya serap siswa baik individu maupun klasikal. Sitti Rahmawaty (2007) menyatakan bahwa daya serap siswa sebagai ukuran ketuntasan belajar individu minimal 70 % sedangkan penguasaan klasikal minimal 60 %. Untuk mencapai standar ketuntasan minimal diperlukan cara-cara dan aktivitas yang dapat dilakukan sehingga tujuan pembelajaran tercapai, dan jika memungkinkan skor siswa bertambah rata-ratanya. (http://www.oke.or.id)
Aktivitas nyata yang dapat dilakukan adalah menggunakan model–model pembelajaran yang bervariatif melalui penggabungan berbagai model atau melakukan pengulangan pembelajaran sebagai bentuk pengajaran remidi. Fakta dan data lain tentang proses pembelajaran adalah banyak siswa yang nilai rata-rata ujian akhir nasional masih di bawah standar kelulusan siswa. Berdasarkan kenyataan ini setiap komponen yang terlibat dalam pembelajaran diharapkan saling berkordinasi untuk meningkatkan nilai rata-rata ujian akhir nasional. Koordinasi yang baik berakibat tidak ada saling menyalahkan di antara sesama komponen pembelajaran.
Menurut Sawali (2007) rendahnya rata-rata nilai ujian yang dicapai oleh siswa disebabkan oleh tiga hal. Pertama, kurangnya motivasi siswa untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Kedua, merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal ini disebabkan oleh adanya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung kehidupan sosial. Masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol untuk ikut menanggulangi berbagai persoalan sosial yang kurang sehat cederung bersikap permisif dan masa bodoh. Sikap instan yang ingin meraih sukses tanpa kerja keras dinilai sebagai hal yang wajar terjadi. Ketiga, guru dinilai kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi suasana pembelajaran di kelas. Kelas ibarat ”penjara” yang pengap dan sumpek; tanpa ada celah “kebebasan” bagi peserta didik untuk menikmati kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Yang lebih mencemaskan adalah bahwa siswa bagaikan “tong sampah” ilmu pengetahuan yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu, tanpa memiliki kesempatan untuk melakukan pendalaman, refleksi, dan dialog.
IPA-Fisika merupakan mata pelajaran yang ikut diujikan dalam ujian akhir nasional. Dengan adanya fakta dan kenyataan rendahnya nilai rata-rata siswa, diperlukan sebuah inovasi pembelajaran dan bahkan pengulangan materi di kelas menjadi sangat penting. Di samping itu, pembelajaran harus di arahkan agar dapat membangkitkan kreativitas siswa misalnya melalui belajar kelompok. Dalam belajar kelompok, siswa dapat berdiskusi satu sama lain, siswa dapat bertukar informasi dan siswa yang pintar dapat membantu siswa yang kurang pintar. Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi dalam kelas. Semuanya dimaksudkan untuk memperoleh pendekatan pembelajaran yang tepat bagi. Hal ini sesuai dengan pendapat Aria Djalil ( 1997) yang menyatakan bahwa setiap saat siswa memerlukan bantuan dari siswa lainnya, dan siswa dapat belajar dari siswa lainnya. Demikian juga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergaul dengan teman lainnya.
Usaha-usaha dalam meningkatkan nilai rata-rata ujian juga dapat dilakukan dengan tutor sebaya. Menurut Arikunto (1996) tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya karena tidak ada rasa enggan atau malu untuk bertanya. Kelebihan dari pendekatan tutor sebaya ini adalah dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah, mengatasi kesulitannya sendiri dan mampu membimbing diri sendiri. Selain itu karena tutor berasal dari teman sekelasnya siswa tidak merasa malu atau segan untuk bertanya apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti dalam proses belajar-mengajar. Melalui tutor sebaya membuat suasana pembelajaran menarik dan menyenangkan ketika. Dalam pelaksanaannya siswa berdialog dan berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah bimbingan guru sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Tutor sebaya pada umumnya dilakukan secara kelompok beranggotakan 5-6 siswa. Tutor sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu mengatasi kesulitan anggota dalam memahami materi ajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: